Kekasihku matanya besar-besar dan mengucing. Tatapan keduanya berlari nyalang diatas kulit buah dadaku. Pujaanku yang cantik itu lidahnya tersembul sedikit diantara dua potong bibirnya yang merah muda dan empuk. Beberapa kali digelengkannya kepala seperti berusaha menertibkan khayalnya.
"Pegal!" Aku mengeluh.
"Tahan sebentar, sayang."
Suara guratan pensil terdengar cepat, keras, bernafsu. Mata belahan hatiku yang indah berpindah-pindah dari badanku ke kertas di hadapannya. Sesekali senyum mesumnya tersungging. Aku memperhatikan payudara kekasihku. Bentuknya bulat mempesona, naik turun bersama deru nafasnya. Suara bulan dan wangi angin kawin di antara dia dan aku.
Rasa cinta membuatku rela meregangkan kaki selama lebih dari dua puluh menit. Aku tak sabar ingin melihat hasilnya. Bisik-bisik ilalang bilang kalau lukisan kekasihku elok sekali. Kepak sayap nyamuk-nyamuk bernyanyi tentang betapa agung tiap lekuk yang dibikin oleh pujaanku itu. Sesaat ia berhenti. Diambilnya belati dari dalam ransel dan diruncingkannya pensil. Lalu ia mulai lagi. Rahangnya yg menyudut sempurna bergemeletuk ketika kugerakkan sedikit kedua belah pahaku. Lalu semakin ganas ujung pensil menggerayangi permukaan kertas.
Sorak-sorai para katak dan kelap-kelip cahya kunang-kunang melegakan aku. Ah… pasti sudah mau kelar. Si pacar dahinya masih kerut merut tetapi wajahnya berbinar puas. Suara aduan pensil dengan kertas terdengar melembut.
Ia melihat bola mataku sembari mengangguk. Cengirannya lebar. Kekasihku kelihatan seperti anak singa yang berhasil dalam pelajaran berburu pertamanya.
"Sudah?" Tanyaku sungguh amat tak sabar.
"Mau lihat hasilnya atau bercinta dulu?" Jawabnya. Dan kedua pahaku tetap menganga.