Welcome

Kelahiran mewujudkan kematian

Written on Sunday, February 8, 2009 at Sunday, February 08, 2009.

Aku menatap dia yang terbujur baring dihadapanku dan yang lain
warna-warna yang dipakai oleh tetamu yang mengenali cukup membuatkan aku merasa
keliru dan heran siapakah mereka,tatapanku tak lama pada mereka
yang hadir sang bunda memakai pakaian putih dan dikelilingi manusia-manusia
yang jasad masih diduduki roh mereka, ditepiku terduduk bocah yang
terdiam, tanpa kata
pengertian perpisahan yang terjadi hari ini masih belom mereka kenali
aku hanya mampu membisu,terpaku saat kedengaran dikupingku
alunan ayat-ayat suci.Dihujungku sianak yang meningkat gadis
memegang tisu ditangan, matanya kelihatan lemah sayu dan kehilangan
aku terlalu mengerti apa yang dirasakan untuk sang bunda
bibir hanya mampu mengucapkan kata 'sabar'
sering aku ungkapkan untuk kepada dia, tapi apa yang dirasakan mati di hati
aku mengrti ini semua tiada penganti
kekasihku tiba dimuka pintu istana sederhana ini, aku mendongak dengan senyuman 
yang sederhana, isyarat sebagai tanda aku turut berduka dengan perpisahan hari itu
Maka bunda diiringi para muslimah-muslimah yang laen
untuk meletakkan dia dibawah,jantungku makin kencang berdetap
nafasku terasa bagaikan aku berolahraga tanpa henti
minda buntuh, runsing akan kejadian hari itu
lalu ukiran kain berwarna coklat itu dibuka helaian demi helaian
sehingga terlihatkan kain putih itu....
bunda, ternyata itu adalah engkau, kekasihku berdiri diam diantara jendela dan pintu
segala pergerakkan ku semakin lemah, nadiku bagaikan terhenti
buat beberapa detik.Segumpal daging yang berisikan jutaan urat-urat memainkan
lagi segala pertemuan antara aku dan sang bunda,tangisan pertamanya saat aku hadir
pada idul adha bersama keluarga kekasihku cukup membuat aku bahagia
saat detik perkenalan antara aku dan bunda
aku terlalu kagum akan melihat derita sengsara yang bunda hadapi selama ini
bukan jijik atau harus aku singkirkan, tapi bangga dan menjadikan
dia sebagai peran utama dalam hidup agar aku lebih
mengenali hidup dengan lebih memanjang
saat aku masakin yang pedas buat bunda...dia tidak pernah bilang
kalau hasil kerja tanganku itu sama sekali tidak enak
malahan dia menikmati hasil lelahku 
kali terkahir pertemuan aku dan bunda....
Dia memeggang tangan anaknya lalu kedengaran
bunyi namaku yang keluar dari salah satu pancaindranya
bertanyakan tentang aku, aku tersenyum campur hiba
dia masih bisa bertanyakan aku biarpun statusnya udah terlalu parah
dan menyakitkan...
kata-kata yang keluar dari salah satu lima pancaindranya
membuatkan aku kurang pasti dengan pertanyaannya
bunda hanya mampu melihat aku dengan melemparkan senyuman tanda semangat
biarpun dengan yang kasar aku melihat bunda terlalu sakit...
Disini, terhadir para ahli keluarga yang mengenali bunda
hadir dipengebumian bunda, aku yakin kekasihku
masih terombang ambing pemikirannya
antara ia atau tidak, tanah-tanah merah dihempapkan
keatas papan yang telah menutupi bunda
laugan soal-soalan yang akan di lemparkan disana pun memecah
kesunyian disana, mataku masih bermain-main melihat 
disekelilingku, aku heran melihat itu semua dalam situasi yang keliru
semuanya selesai, kekasihku masih terduduk ditepi, dengan linangan tanpa henti
mungkin baru dia sedar bahawa kekasihnya telah pergi
aku tidak mampu untuk memegangnya, karena aku turut merasa
kehilanggan bagaikan satu anak jarihilang, biarpun peran tidak 
seutama peran seluruh tanganku, tapi ia membantu aku disaat sukar
aku terdiri dibelakang kekasihku, terdiam menangis dan ditemani
hangat suria ditanah perkuburan itu
aku jadi ingat akan kejadian kemarin
telfon selku berbunyi tangisan yang kudengar, dia sudah tiada
dia pergi...
aku terlalu kaget, diam lemah tanpa kata
antara percaya atau tidak, sang bunda yang aku baru kenali
menjadi sumber idolaku telah tiada?
apakah itu benar bunda yang masih aku mahu kenali
begitu dalam telah tiada??
Dia terlalu kuat untuk sakitkan, sehinggakan dia rebah
tuhan memberi aku penglihatan untuk aku kenali
kesakitan itu tidak akan pernah bisa dihadapi hanya dengan kelemahan.
Semoga kau disisiNya, diantara para-para Syuhadah dan Rasul-Nya.
Selamat tinggal sang srikandi.

Archives

June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
April 2009
January 2010


Credits

Layout by Yoyo
Image from: Amuca